Kemenperin menilai industri agro Indonesia tangguh menghadapi sentimen perang antara AS-Israel dan Iran. Industri agro mengandalkan pasokan komoditas dalam negeri untuk operasional produksi.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menilai, industri agro Indonesia tidak begitu terdampak dengan sentimen perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Hal ini bisa terjadi karena industri terkait mengandalkan pasokan dalam negeri untuk melaksanakan operasional.

“Kalau bahan bakunya ada di Indonesia… banyak industri agro itu kan pengolahan hasil-hasil (komoditas) kita kayak minyak goreng, (minyak) atsiri, bumbu, itu memang tidak ada isu yang terkait dengan konflik di Timur Tengah,” kata Putu di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (10/3).

Di sisi lain, Putu mengungkapkan, kestabilan juga didasari pemasukan bahan baku impor yang dibutuhkan industri agro sudah masuk lebih awal sebelum perang di Timur Tengah berkecamuk. Pihaknya meyakini industri terkait belum akan terdampak sentimen negatif perang dalam waktu dekat.

“Mungkin nanti yang terdampak itu adalah bahan baku yang akan datang (impor), terutama logistiknya. Ini biaya pengangkutan logistik saja (naik),” ujarnya.

Adapun, dia mengingatkan, sektor industri agro nasional tidak terlalu mengandalkan impor dari Timur Tengah. Ketimbang itu, industri agro lebih banyak mengimpor bahan baku dari Australia, Thailand, maupun Amerika Latin.

“Kalau impor dari Timur Tengah kita di agro tidak ada. Karena bahan baku, umpamanya, gula rafinasi untuk industri itu banyak dari Australia, Thailand, Amerika Latin,” jelasnya.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pun, sambungnya, sudah beberapa kali mengadakan rapat pimpinan (rapim) untuk melakukan assesment dan memonitor terus perkembangan konflik Timur Tengah.

“Jadi semua sudah kita coba cari alternatif-alternatif mitigasinya, dan mungkin di agro memang tidak begitu terdampak. Mudah-mudahan ekspor kita ini bisa mempunyai daya saing yang lebih dan kita surplus, neraca perdagangannya tinggi di agro,” ungkapnya.

Adapun, Putu mengidentifikasi, sentimen perang Timteng akan berdampak besar bagi industri kimia RI, utamanya produk dari bahan plastik seperti pembungkus. Dia pun berharap, industri kimia sudah mulai memitigasi efek rambatan negatif perang terhadap produk turunannya.

“Sehingga mencari win-win solution, mencari mitigasinya agar bahan penunjang untuk kemasan (plastik) dari sisi industri kami ini bisa terdukung, tidak terlalu terguncang kenaikannya tidak terlalu tinggi,” jelasnya.

Sumber : validnews.id