Chandra Asri Group (TPIA) yang dikenal sebagai perusahaan petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia, saat ini bertransformasi menjadi perusahaan solusi kimia dan infrastruktur. Dengan rekam jejak lebih dari 31 tahun mengoperasikan satu-satunya pabrik naptha cracker, styrene monomer, butadiene, MTBE dan butene-1 di Indonesia, Chandra Asri Group didukung oleh aset infrastruktur inti yang mencakup fasilitas energi, pengolahan air dan jetty & tank.
Di tahun 2024, TPIA menyiapkan anggaran belanja modal (Capex) hingga US$ 400 juta, di mana US$ 300 juta akan digunakan untuk pembangunan pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (pabrik CA-EDC) terintegrasi berskala dunia.
“Proyek tersebut akan memakan waktu hingga 28 bulan ke depan. Saat pembangunan proyek ini selesai, diharapkan akan memberikan kontribusi positif terhadap margin Chandra Asri,” ujar Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, saat Paparan Publik Insidentil di Jakarta pada Rabu (10/1/2024).
Menurut Suryandi, Indonesia masih mengimpor produk petrokimia, sehingga dari segi revenue, Chandra Asri akan mengoptimalkan kapasitas produksi.
“Asumsinya kurang lebih seperti angka pencapaian di tahun 2023 dari segi revenue,” lanjut Suryandi.
Chandra Asri Group saat ini sudah bertransformasi tidak hanya di bisnis kimia tapi juga masuk ke industri infrastruktur. Pengembangan usaha ini untuk memperkuat kinerja karena industri petrokimia diketahui fluktuatif yang dipengaruhi oleh supply dan demand. Dengan merambah industri infrastruktur di mana kinerjanya lebih stabil, tentunya akan memberikan manfaat apabila performance bisnis petrokimia menurun di tahun-tahun mendatang.
Direktur Legal, Hubungan Eksternal, dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group, Edi Rivai, juga menegaskan bahwa diversifikasi bisnis Chandra Asri di sektor infrastruktur akan memberikan peluang pendapatan baru, dengan investasi kurang lebih US$ 850 juta atau 13 triliun.
“Kita harapkan mulai di tahun 2026 dapat memenuhi kebutuhan industri vehicle khususnya baterai. Dengan demikian, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan kimia,” ujar Edi.
Chandra Asri Group pun berkomitmen untuk melaksanakan semua rencana pengembangan tahun ini terutama di pabrik alkali di kuartal I atau II 2024. Optimisme ini didukung oleh finansial perseroan yang kuat, di mana TPIA mengklaim memiliki kas yang siap dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha hingga US$ 2 miliar.
Chandra Asri Group sebagai Growth Partner bagi Indonesia memiliki rekam jejak pertumbuhan yang solid melalui kemitraan dengan berbagai institusi kelas dunia. Sebut saja Barito Pacific, SCG Chemical, Thaioil, Salimgroup, Michelin, Krakatau Steel, Posco dan EGCO Group. Langkah strategis melalui diversifikasi bisnis di bidang kimia dan infrastruktur dinilai meningkatkan kinerja bisnis Chandra Asri Group. Sejumlah inisiasi yang dilakukan di antaranya mengakuisisi anak usaha Krakatau Steel, yakni 70 persen Krakatau Daya Listrik dan 49 persen Krakatau Tirta Industri. Chandra Asri Group bersama Indonesia Investment Authority juga menandatangani Nota Kesepahaman untuk bekerja sama mengembangkan pabrik chlor-alkali berskala dunia. Chandra Asri juga meningkatkan kepemilikan saham KCE di PT Krakatau Posco Energy menjadi 45 persen.
Sumber : beritasatu.com
