T Sumber Global Energy Tbk (SGER), perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perdagangan minyak, akan mendirikan fasilitas produksi hydrogen peroxide (H2O2) sebanyak 20.000 metrik ton (MT) melalui anak perusahaannya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI). Pabrik ini akan menjadi fasilitas produksi hydrogen peroxide terbesar di Indonesia. 

Direktur Utama PT Sumber Global Energy Tbk, Welly Thomas, menyatakan pabrik hydrogen peroxide akan memiliki kapasitas 20.000 metrik ton (100% konsentrasi) atau 40.000 metrik ton (50% konsentrasi) per tahun. 

“Rencananya, kontrak engineering procurement dan construction (EPC) akan ditandatangani paling lambat pada Februari 2024 dan target operasional komersial pada Oktober 2025,” kata Welly, dikutip Investor Daily, Selasa (12/12/2023). 

Pabrik yang berlokasi di Merak, Banten akan bekerja sama dengan PT Sulfindo Adiusaha, pemilik 45% saham dalam proyek tersebut.

Welly Thomas menjelaskan bahan baku utama pabrik, yaitu hidrogen (H2), akan dipasok oleh PT Bintang Mitra Semestaraya Tbk (BMSR), yang merupakan penyalur tunggal produk kimia domestik dari PT Sulfindo Adiusaha. 

“Pembangunan pabrik ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia terhadap H2O2, yang diperkirakan akan mencapai 40.000 metrik ton (50%) pada 2023,” kata dia.

Dalam konteks pertumbuhan industri, permintaan hydrogen peroxide di Asia Tenggara diharapkan terus pulih, didorong sektor tekstil dan kimia. Proyeksi menunjukkan pertumbuhan permintaan hydrogen peroxide dari Asia Tenggara sebesar 4,5% per tahun hingga 2030, melebihi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) regional sebesar 4,0% pada periode yang sama.

Hydrogen peroxide, sebagai bahan kimia ramah lingkungan, memiliki aplikasi luas di berbagai sektor, termasuk pulp and paper, tekstil, dan pertambangan. Di sektor pertambangan emas, misalnya, hydrogen peroxide digunakan untuk meningkatkan efisiensi pencucian emas dengan memastikan konsentrasi oksigen terlarut. 

“Dengan beroperasinya pabrik hydrogen peroxide milik SGER, diharapkan dapat memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar dari sektor pertambangan, kimia, dan tekstil,” kata dia.

Sumber : beritasatu.com