Pemerintah meminta Pertamina untuk segera mewujudkan pengembangan petrokimia karena hal imi akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Pertamina sendiri maupun ekonomi Indonesia. Karena itu, Kemenperin akan mengawal proyek petrokimia perusahaan negara maupun swasta senilai total US$ 31 miliar (Rp 438,7 triliun) tahun 2020-2025.
Dirut PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengatakan, pengembangan bisnis petrokimia akan menjadi mesin pertumbuhan Pertamina ke depan. Sebagai salah satu dari tiga strategi utama, Pertamina akan terus bertransformasi dan bergerak cepat mewujudkan nilai kapitalisasi perusahaan US$ 100 miliar tahun 2030, dibanding pada akhir 2019 sekitar US$ 50 miliar. Strategi lain adalah inorganic growth yang sesuai dengan tren global energy transition, serta pengembangan bisnis dengan memanfaatkan kekuatan distribusi dan logistik.
“Kami mengembangkan bisnis petrochemical dengan kekuatan Pertamina sekarang dari hulu sampai midstream. Pengembangan kilang kami membuat perusahaan makin kuat ketika diintegrasikan hulu, kilang, dan petrochemical. Ini menjadi competitive advantage buat Pertamina, apalagi dilanjutkan lagi dengan proses hilirisasi dari sisi industri, dari hilirnya lagi dari petrochemical. Ini mesin pertumbuhan Pertamina ke depan,” ujar Nicke belum lama ini.
Sementara Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam mengatakan, pemerintah berencana mengurangi ketergantungan impor petrokimia dengan membangun beberapa proyek melalui Pertamina. Hal ini juga sangat strategis karena industri petrokimia banyak memberikan nilai tambah dan banyak digunakan oleh industri manufaktur seperti plastik dan tekstil, sekaligus dapat memberi cuan kepada perusahaan pelat merah Pertamina. Terlebih ke depan era kendaraan listrik juga mulai jalan, yang akan membuat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) turun.
Jadi, kata dia, Pertamina juga harus sudah memproyeksikan industrinya ke depan seperti apa, di tengah mulai maraknya penggunaan mobil listrik di dunia. “Di banyak negara lain yang mengerjakan Refinery Development Master Plan (RDMP), komposisinya 80% energi dan 20% petrokimia. Namun, yang lebih menghasilkan keuntungan yang lebih besar justru petrokimia. Jadi, kalau hanya bisnis energi saja sebenarnya rugi. Enggak ada kata terlambat, Pertamina juga sudah punya komitmen. Ini yang kita inginkan, karena kalau bisnis yang punya nilai tambah malah enggak digeluti, kan aneh,” ujar Khayam saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (15/12).
Sumber : Bensinkita
