Industri semen di Indonesia mengalami kondisi overkapasitas di hampir seluruh wilayah, kecuali di Bali-Nusa Tenggara dan Maluku-Papua. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan terjadi overkapasitas secara nasional sebesar 51,8 juta ton atau sekitar 45%.
Data menunjukkan bahwa produksi semen pada semester pertama tahun 2023 mencapai 29,3 juta ton, sedangkan kebutuhan semen nasional sebesar 28 juta ton. Pada tahun 2022, produksi semen mencapai lebih dari 64 juta ton dengan kebutuhan sekitar 63 juta ton.
“Saat ini, industri semen nasional terdiri dari 15 perusahaan semen terintegrasi yang tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan total kapasitas terpasang sebesar 116 juta ton per tahun. Saat ini, industri semen masih mengalami overkapasitas sebesar 51,8 juta ton atau sekitar 45%,” papar Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito, dalam kunjungan kerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di PT Semen Indonesia (Persero Tbk.) di Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (14/7/2023).
Warsito mengatakan persentase overcapacity terbesar terjadi di Pulau Jawa, yaitu lebih dari 55,4%.
Untuk mengatasi kondisi kelebihan kapasitas (overkapasitas) di industri semen nasional, Kementerian Perindustrian mendorong moratorium atau pengaturan investasi baru.
“Upaya tersebut dapat memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri semen di tanah air, sekaligus mendukung daya saing,” ujar Warsito.
Menurut Warsito, investasi baru pabrik semen sebaiknya difokuskan di wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Pengaturan ini akan dievaluasi kembali jika utilisasi rata-rata nasional mencapai 85%.
Warsito menjelaskan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh industri semen untuk mengatasi kondisi overkapasitas saat ini adalah dengan meningkatkan ekspor. Peningkatan ekspor semen dan klinker pada semester pertama tahun 2023 mencapai 11,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan di pasar luar negeri.
Namun, kenaikan harga batu bara internasional yang terjadi sejak Desember 2020 memberikan dampak signifikan bagi industri semen. Selain meningkatkan biaya produksi, kenaikan harga batu bara juga menghambat pasokan bahan baku utama industri semen.
Industri semen juga menghadapi tantangan dalam transportasi, karena lebih dari 80% transportasi semen dilakukan melalui darat dengan menggunakan truk. Kebijakan Zero Over Dimension Over Load (ODOL) perlu diterapkan secara tepat sasaran agar tidak meningkatkan biaya logistik yang harus ditanggung oleh industri dan konsumen.
Industri semen telah menyampaikan tiga usulan sebelum penerapan kebijakan Zero ODOL secara penuh, yaitu penyesuaian sistem Keur/Kir kendaraan dan kelas jalan, penerapan multi-axle, serta peningkatan kualitas daya dukung jalan.
“Ketiga usulan tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu untuk kelancaran pelaksanaan kebijakan Zero ODOL. Jika belum terpenuhi, maka dapat dipertimbangkan untuk menunda penerapan Zero ODOL hingga tahun 2025. Mengingat industri kehilangan momentum dua tahun lebih dalam persiapan pelaksanaan kebijakan Zero ODOL secara penuh pada tahun 2023 akibat pandemi Covid-19,” tegas Warsito.
Sumber : beritasatu.com
