Industri petrokimia akan mendapat dampak negatif ganda (double hit) dari pemberlakuan kebijakan cukai plastik dan cukai minuman berpemanis pada tahun 2023. Pengenaan cukai tersebut bakal mengancam pertumbuhan industri petrokimia seiring peningkatan harga jual produk yang akan menurunkan permintaan. Pada saat bersamaan, pasar domestik industri petrokimia bakal dibanjiri produk petrokimia impor dengan harga yang lebih murah.

“Kalau harga jual produknya jadi mahal karena cukai tadi, pasar akan diisi barang impor. Impor pasti akan bocor lewat pelabuhan-pelabuhan kecil, karena pintu masuk dari luar pelabuhan utama sangat luas sekali,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Fajar berharap, pemberlakuan cukai plastik dan minuman berpemanis tersebut bisa ditunda. Dengan demikian, permintaan produk di industri petrokimia masih bisa naik di tahun ini. “Pemberlakuan cukai otomatis akan menaikkan harga jual produk, yang akan mendorong konsumen untuk mengurangi konsumsinya, itu akan memengaruhi pertumbuhan industri petrokimia,” ujar dia.

Pada tahun lalu, industri padat modal ini mampu mencatatkan pertumbuhan nilai penjualan 4,2% menjadi US$ 14,4 miliar. Menurut Fajar, pertumbuhan di industri petrokimia tersebut masih di bawah target yang ditetapkan Inaplas sebanyak 4,5%.

Turunnya permintaan industri pengguna dan tingginya harga minyak dunia menjadi pemicu industri padat modal tersebut tidak dapat mencapai target yang ditetapkan. Akibatnya, industri petrokimia hanya mampu mencatatkan omzet US$ 14,4 miliar di 2022, atau lebih rendah US$ 600 juta dari target US$ 15 miliar.

“Perang Rusia-Ukraina memicu kenaikan harga minyak global, sehingga membuat bahan baku petrokimia turut melonjak. Kondisi tersebut ditambah dengan penurunan permintaan dari industri pengguna, membuat utilisasi turun hingga di bawah 70%,” tutur dia.

Fajar mengatakan, penjualan produk petrokimia sangat bergantung pada industri makanan minuman (mamin) yang berkontribusi sekitar 45% dari total penjualan. Sementara industri pengguna lainnya yakni otomotif menyumbang 10% dari total penjualan petrokimia, disusul bahan bangunan (building material) 10%, peralatan rumah tangga 15%, dan sisanya dari industri lainnya.

Sementara Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengatakan, pihaknya akan terus mendorong hilirisasi di industri petrokimia. Upaya ini dinilai strategis karena dapat menghasilkan bahan baku primer untuk menopang banyak industri manufaktur hilir penting seperti tekstil, otomotif, mesin, elektronika, dan konstruksi.

“Pemerintah saat ini tengah mengawal sejumlah proyek pembangunan industri petrokimia raksasa, antara lain investasi petrokimia di Cilegon, gasifikasi batu bara di Muara Enim, serta di Bintuni Papua,” kata Agus.

Sumber : beritasatu.com