Industri Petrokimia memiliki potensi dan kekuatan pasar yang besar dalam kemajuan perekonomian Indonesia baik di dalam dan luar negeri. Terkait itu, pengamat ekonomi mengungkap peluang industri petrokimia di 2024.
Pengamat Ekonomi Hendri Saprini mengatakan industri tersebut memiliki peluang yang besar karena semakin maju dan bertumbuhnya ekonomi suatu negara, maka kebutuhan dari produk petrokimia juga akan semakin tinggi.
Terlebih adanya perluasan hilirisasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) ke depan sehingga membuka peluang pada sektor industri kimia dan pertanian.
“Apakah ada peluang? saya bilang iya, karena itu sudah ada di RPJ. Apakah ada prioritas dalam RPJMN atau lima tahun ke depan? itu sangat bergantung pada pemerintah terpilih,” ungkapnya dalam workshop Hilirisasi Pada Sektor Industri Kimia dan Peran Sektor Infrastruktur di Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/2/2024).
Hendri menambahkan jika sektor industri nontambang atau petrokimia ini tidak digenjot, maka akan menjadi kerugian besar bagi perekonomian Indonesia. Ia menuturkan pengembangan sektor industri ini seharusnya mudah dilakukan mengingat jumlah penduduk di Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di ASEAN.
“Turunan produk bisa menciptakan industri hilir yang sangat luas,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia dan Hubungan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengatakan demi mendukung kemajuan perekonomian Indonesia lewat sektor industri, Chandra Group yang juga merupakan salah satu industri petrokimia terbesar telah menggelontorkan dana sebanyak Rp 15,7 triliun untuk melakukan ekspansi bisnis pabrik pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) berskala global yang merupakan bahan untuk memproses nikel.
“Pembangunan akan dimulai pada semester II tahun ini dengan nilai investasi US$ 1 miliar. Pembangunan konstruksi membutuhkan waktu dua tahun, sehingga diperkirakan selesai pada 2027,” katanya.
Selain itu, Direktur Legal, Hubungan Eksternal dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group, Edi Rivai menambahkan pembangunan pabrik baru ini adalah strategi Chandra Asri Group untuk mendukung hilirisasi nikel pemerintah.
Untuk pabrik akan dibangun oleh anak perusahaan Chandra Asri Group dan ditargetkan dapat memproduksi lebih dari 400 KTA CA dan 500 KTA EDC untuk kebutuhan dalam dan luar negeri.
“Komponen ini penting bagi industri kendaraan listrik yang tengah dikembangkan pemerintah,” ujarnya.
Sumber : Beritasatu.com
